dero.desa.id– Dalam upaya memperluas jangkauan dan meningkatkan kemanfaatan program Cek Kesehatan Gratis (CKG), Puskesmas Bringin bekerja sama dengan Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi menggelar kegiatan Tracing TB Terintegrasi. Aksi pelayanan kesehatan masyarakat ini dipusatkan di Pendopo Kantor Desa Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, pada Jumat (09/10) pagi.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.00 wib ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Sejak pagi, warga tampak berbondong-bondong memadati lokasi pemeriksaan dengan membawa persyaratan administrasi sederhana, yakni fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Integrasi layanan ini mengusung tajuk utama *"Tracing TB Terintegrasi Cek Kesehatan Gratis (CKG): Deteksi Dini TBC, Lindungi Diri dan Keluarga"*. Melalui skema ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan pemeriksaan kesehatan umum secara bebas biaya, tetapi juga menjalani skrining awal dan penelusuran (*tracing*) aktif terhadap potensi penyebaran penyakit Tuberkulosis (TBC).
Jangkauan pelayanan pada kegiatan kali ini terasa sangat luas. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Desa Dero selaku tuan rumah, melainkan juga mencakup warga dari tiga desa sekitar di wilayah Kecamatan Bringin, yaitu Desa Dampit, Desa Gandong, dan Desa Legowetan. Bahkan, beberapa warga dari luar desa tersebut turut memanfaatkan momentum pelayanan kesehatan gratis ini.
Saat ditemui oleh tim media website Desa Dero di sela-sela kesibukannya melayani warga, Bidan Desa Dero, Wiji, menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat yang dinilainya sangat tinggi.
Wiji menjelaskan bahwa integrasi program ini sangat membantu tenaga kesehatan di tingkat desa dalam memetakan kondisi kesehatan warga secara akurat. Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri secara sukarela merupakan kunci utama pencegahan penularan penyakit menular di tingkat lingkungan.
Wiji menambahkan bahwa kehadiran tim P2P Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi dan Puskesmas Bringin di Balai Desa Dero memberikan kemudahan akses bagi warga yang selama ini enggan atau terkendala jarak untuk melakukan pemeriksaan mandiri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Di tempat yang sama, Pengelola Program TBC Puskesmas Bringin, Jumiati Ningsih, memberikan pemaparan teknis mengenai fokus utama dari pelaksanaan *tracing* terintegrasi ini.
Jumiati Ningsih menjelaskan bahwa TBC masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan penanganan terpadu dan berkelanjutan. Melalui penggabungan agenda skrining TBC ke dalam program CKG, pihak puskesmas berharap dapat menemukan kasus-kasus baru secara lebih dini sebelum penularan meluas di tengah keluarga maupun tetangga.
Jumiati Ningsih memaparkan bahwa prosedur skrining dilakukan secara teliti melalui pemeriksaan gejala klinis, wawancara riwayat kontak erat, hingga pemeriksaan dahak atau rujukan lanjutan bagi warga yang mengindikasikan gejala TBC. Langkah deteksi awal ini penting agar warga yang terkonfirmasi dapat segera mendapatkan pendampingan pengobatan secara tepat dan tuntas hingga sembuh.
Jumiati Ningsih menambahkan bahwa seluruh tahapan pemeriksaan hingga penanganan obat TBC disediakan oleh pemerintah secara gratis. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak ragu, takut, atau merasa malu apabila harus menjalani pemeriksaan.
Jumiati Ningsih berharap lewat kolaborasi lintas sektor ini, angka penemuan kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas Bringin dapat meningkat signifikan sejalan dengan penurunan angka penularannya. Ia juga menekankan pentingnya peran aktif seluruh elemen masyarakat dan perangkat desa untuk terus mengedukasi warga mengenai pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menjaga ventilasi udara rumah tetap baik.
Melalui kegiatan terpadu ini, Pemerintah Kabupaten Ngawi bersama Puskesmas Bringin menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pelayanan kesehatan yang inklusif, mudah diakses, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat hingga ke pelosok desa.
Baca Juga Berita Sebelumnya: