dero.desa.id — Di tengah derasnya arus modernisasi dan menguatnya gaya hidup individualistis yang kian merebak hingga ke pelosok negeri, derap langkah kaki dan riuh tawa warga Dusun Tegal Duwur, Desa Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, membuktikan bahwa urat nadi kearifan lokal belum runtuh. Pada Minggu (13/9/2026) pagi, suasana hangat terpancar jelas saat puluhan warga berkumpul melingkupi kediaman Nardi, seorang warga di lingkungan RT 02 RW 01. Tanpa komando bernada paksaan maupun pergerakan berbayar, masyarakat setempat berbondong-bondong datang membawa semangat solidaritas dalam tradisi luhur yang dikenal sebagai sambatan.
Secara etimologis, istilah sambatan berakar dari bahasa Jawa, yaitu kata sambat yang secara harfiah berarti meminta pertolongan atau mengeluh atas suatu kesulitan. Namun, dalam konteks realitas sosial masyarakat pedesaan Jawa, makna sambatan melompat jauh melampaui sekadar aksi minta bantuan teknis. Tradisi ini telah menjelma menjadi manifestasi solidaritas organik dan bentuk nyata gotong royong yang paling murni.
Aksi kebersamaan pada Minggu pagi tersebut menjadi panggung nyata betapa indahnya hubungan kemasyarakatan yang saling menopang. Sejak matahari baru terbit di ufuk timur, puluhan pria dan wanita bahu-membahu merenovasi rumah Nardi yang lapuk tergerus usia. Ada warga yang bertugas membongkar genteng bangunan lama, merangkai kerangka kayu untuk atap, mengaduk semen, hingga mendirikan tiang-tiang penopang rumah. Tidak ada kalkulasi rupiah, tidak ada daftaran gaji harian, dan sama sekali tidak ada hubungan transaksional. Seluruh bantuan tenaga dan pikiran diberikan secara sukarela dan tulus murni atas dasar kepekaan rasa sebagai sesama tetangga.
Sebagai bentuk apresiasi, rasa terima kasih, dan penghormatan kepada para warga yang telah bekerja keras, keluarga tuan rumah menyajikan hidangan sederhana khas pedesaan. Nasi hangat dengan lauk pauk rumahan, seduhan kopi pahit, teh manis hangat yang masih berasap, serta aneka jajanan pasar tradisional tersaji di sudut halaman. Momen rehat sejenak di sela-sela kerja fisik yang menguras keringat ini menjadi ruang dialog antarwarga yang amat berharga. Di sinilah canda tawa mengalir deras, meluruhkan rasa lelah sekaligus mempererat tali silaturahmi. Di titik inilah letak keindahan hakiki dari sambatan: sebuah ruang sosial alami tempat modal sosial dipelihara dan dirawat tanpa sekat.
Di Desa Dero, sambatan bukanlah peristiwa insidental yang langka, melainkan tradisi hidup yang meresap ke dalam berbagai aspek kehidupan. Spektrum kegiatannya sangat luas. Selain membantu renovasi atau pembangunan rumah warga, sambatan kerap hadir saat musim panen raya di sektor pertanian, pengolahan lahan garapan, hingga pembangunan sarana umum desa seperti pos ronda, perbaikan jalan setapak, masjid, dan balai desa. Bahkan, pada peristiwa hajatan keluarga seperti pernikahan dan khitanan, hingga momen duka cita, warga dengan sigap mendirikan tenda, mengolah konsumsi, dan menjaga ketertiban lingkungan.
Saat ditemui tim media website Desa Dero di sela-sela kegiatan, Nardi (62), pemilik rumah yang direnovasi, tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bahagianya. Dengan mata berbinar, ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam atas kepedulian tetangga sekitarnya.
Ia menjelaskan bahwa tanpa bantuan warga secara bergotong royong, ia tentu akan kesulitan merenovasi tempat tinggalnya mengingat keterbatasan biaya dan tenaga yang dimilikinya saat ini. "Kalau borong tukang sendiri, biayanya sangat besar dan saya jelas tidak mampu. Tapi dengan sambatan ini, pekerjaan berat jadi terasa begitu ringan karena dikerjakan bersama-sama," ungkap Nardi dengan suara bergetar.
Ia menambahkan bahwa tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun sejak era leluhur mereka dan tetap terjaga kelestariannya hingga kini. Nardi berharap generasi muda di desanya bisa terus merawat nilai-nilai kebersamaan ini agar tidak punah tertelan zaman. Menurutnya, sambatan bukan sekadar membangun fisik bangunan, melainkan merawat rasa persaudaraan agar tetap utuh dan hangat.
Fenomena kebersamaan di Ngawi ini menegaskan betapa prinsip resiprositas atau kesalingan tertanam sangat dalam pada sanubari masyarakat pedesaan. Falsafah Jawa kuno yang berbunyi, “Sopo sing nandur kebecikan, bakal ngunduh wohing pakarti”—siapa yang menanam kebaikan, kelak akan memetik buah dari budi pekerti tersebut—menjadi landasan etik yang kokoh. Warga meyakini bahwa uluran tangan yang mereka persembahkan hari ini merupakan investasi sosial yang pasti akan membuahkan pertolongan serupa saat mereka membutuhkan bantuan di masa mendatang.
Lebih dari sekadar cara efisien untuk menyelesaikan pekerjaan fisik yang berat, tradisi sambatan berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir dalam menjaga nilai-nilai empati dan keharmonisan sosial dari gempuran era digital. Pelibatan generasi muda dalam aktivitas sambatan di Desa Dero menjadi sarana pendidikan karakter yang nyata, di mana anak-anak muda dapat menyaksikan langsung bagaimana rasa kemanusiaan dan persaudaraan dipraktikkan secara tulus tanpa memandang latar belakang sosial.
Peristiwa hangat di kediaman Nardi pada Minggu pagi itu menjadi bukti autentik bahwa di bumi Jawa, spirit gotong royong tidak sekadar menjadi catatan usang di buku sejarah. Sambatan terus bernapas, merawat rasa kemanusiaan, dan membakar semangat kebersamaan di tengah dunia yang makin individualis. Melalui ketulusan warga Desa Dero, api gotong royong terbukti tetap menyala, menolak padam ditapis zaman.
Baca Juga Berita Sebelumnya: