Dero.desa.id - Tradisi selamatan ngaturi 6 bulanan bagi ibu hamil masih menjadi kearifan lokal yang dijaga dengan penuh kesungguhan oleh warga Desa Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi. Di tengah perkembangan zaman yang serba modern, masyarakat setempat tetap meyakini bahwa ritual adat ini bukan sekadar serangkaian acara, tetapi sebuah ungkapan syukur, doa, serta harapan baik bagi calon bayi. Seperti yang berlangsung pada Kamis (20/11) malam, ketika Qomaruddin (32), warga Dusun Tegal Duwur, menggelar selamatan ngaturi untuk istrinya yang tengah hamil anak kedua, yang kini memasuki usia lima bulan.
Saat ditemui tim website Desa Dero, Qomaruddin menjelaskan bahwa selamatan ngaturi merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT atas amanah kehamilan yang kembali dipercayakan kepada keluarganya. Ia mengatakan bahwa tradisi ini sudah turun-temurun dilakukan oleh orang tua mereka, dan baginya, tradisi tersebut memiliki nilai spiritual sekaligus sosial yang sangat kuat.
Ia menambahkan bahwa selamatan ngaturi bukan hanya doa keselamatan bagi ibu dan jabang bayi, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarwarga. Kehadiran para tetangga yang ikut mendoakan, menurutnya, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat, sesuatu yang menurutnya sangat berharga di tengah gaya hidup masyarakat masa kini yang mulai individualistis.
Sementara itu, Suparman (57), sesepuh Dusun Tegal Duwur, turut memberikan pandangannya mengenai makna tradisi ini. Ia menjelaskan bahwa ngaturi 6 bulanan sudah dilakukan sejak zaman para leluhur dan dipercaya membawa keberkahan bagi keluarga yang melaksanakannya.
Ia mengungkapkan bahwa dalam tradisi tersebut terdapat simbol-simbol kearifan, seperti penyajian tumpeng dan doa bersama, yang mencerminkan harapan keselamatan, ketenteraman, dan kelancaran proses kelahiran. Ia mengatakan bahwa nilai-nilai ini perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Ia memaparkan bahwa tradisi seperti ini bukan semata ritual, tetapi bagian dari identitas budaya masyarakat Dero yang mengajarkan pentingnya gotong royong serta menjalani hidup dengan rasa syukur.
Ia menambahkan bahwa selama masyarakat masih menghargai warisan leluhur, maka tradisi ngaturi akan tetap lestari dan relevan. Ia juga berharap generasi muda dapat terus melestarikan tradisi ini, bukan hanya sebagai rutinitas, tetapi sebagai bagian dari jati diri dan kearifan lokal yang perlu dijaga bersama.
Dengan demikian, selamatan ngaturi 6 bulanan di Desa Dero bukan hanya sekadar tradisi, tetapi cermin harmoni antara budaya, doa, dan kebersamaan yang tetap hidup hingga kini.
Baca Juga Berita Sebelumnya: